Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KERAJINAN TANGAN DAUN SURUH KARYA WARGA BINAAN MENJADI CINDERAMATA

 


Pasuruan Kota - Kegiatan kerja merupakan salah satu bentuk pembinaan kemandirian yang di berikan Lapas Kelas IIB Pasuruan Kanwil Kemenkumham Jatim kepada warga binaan. Pada kesempatan penandatangan kerja sama dengan stakeholder lalu, Kalapas Pasuruan Ma'ruf Prasetyo Hadianto memperkenalkan cinderamata terbaru yang menggambarkan ciri khas dari Lapas Pasuruan. Senin, (29/01)

Cinderamata tersebut hasil karya 4 (empat) warga binaan yang memiliki keahlian dibidang ukir kayu. Terbuat dari jati belanda yang dipahat berbentuk daun sirih atau yang biasa orang jawa sebut suruh. Nama Pasuruan dikenal pertama kali pada masa Kerajaan Majapahit. Raja Hayam Wuruk sempat singgah ke pusat Kerajaan Mataram Kuno di daerah Pasuruan. Saat Raja Hayam Wuruk tiba di Kerajaan Mataram Kuno, Mpu Sindok menyuguhkan sirih. Ketika menerima puan (tempat sirih) dari emas lengkap dengan kapur, gambir, dan buah pinangnya, Raja Hayam Wuruk mulai mengunyah sirih. Raja Hayam Wuruk merasa sangat senang saat mengunyah sirih. Berkali-kali Raja Hayam Wuruk mengatakan Pasuruhan. Saat Raja Hayam Wuruk kembali melanjutkan perjalanan, Mpu Sindok menyebut daerah tersebut sebagai Pasuruhan.

"Nantinya, cinderamata ini akan dijadikan icon Lapas Kelas IIB Pasuruan untuk mengingat sejarah dan melestarikan potensi wilayah melalui kerajinan ukir kayu sebagai bentuk pembinaan kemandirian warga binaan yang estetik dan bernilai jual di masyarakat." Jelas Ma'ruf.


(Humas Lapas Pasuruan)

Posting Komentar untuk "KERAJINAN TANGAN DAUN SURUH KARYA WARGA BINAAN MENJADI CINDERAMATA"